wong acak acakan kabeh, ojo ditiru
Welcome to My Life
Herlambang Festa Kusuma PJKR '15 UPGRIS SEMARANG BANJARNEGARA, 13 AGUSTUS 1996 Tentang apa saja , ada disini, nggak percaya? cek saja ya
Senin, 02 Januari 2017
Karena Hidup tak Semudah membalikan Telapak Tangan
Ini adalah kisah hidupku tentang sepak bola. Sepak bola bagiku adalah bagian dari nyawaku, sebab di dalam olahraga ini banyak mengajarkan saya tentang bagaimana rasa bersyukur, rasa memiliki, respect terhadap semua orang, menerima kekalahan, dan menghargai tentang kemenangan yang diraih. Sepak bola juga mengajarkan bagaimana kesetiaan, kekompakan, dan kekeluargaan.
Namun pernah suatu ketika, saya berada dimana semua atlet tidak mau mengalaminya, yaitu cidera. Mendengarnya saja sudah membuat merinding ketakutan, apalagi mengalaminya, namun pada saat itu sebuah kecelakaan menimpa saya di lapangan, dimana tangan kiri saya mengalami retak karena salah bertumpu pada rumput. Entah seperti apa kejadiannya sayapun tak mampu membayangkannya, seketika saja tangan kiriku sudah mati rasa. Dan pada saat itu, saya pun merenung, apakah tangan saya baik baik saja? apakah saya mampu bermain sepak bola kembali? Ya, walaupun hanya tangan, namun itu dapat mengurangi kemampuan sepak bola kita. Hilang semangatku ketika mendengar dan melihat hasil ronsagne dari dokter, saya berfikir itu sudah habis bagi saya. Saya mungkin tidak bisa bermain sepak bola lagi.
Namun setelah beberapa hari merenung, saya pun sadar, saya tidak boleh terus berdiam diri merenungi dan menyalahkan keadaan, saya laki laki, saya tidak boleh menyerah hanya karena cidera seperti ini, saya harus bangkit. Hari esoknya saya pun berniat untuk melatih tangan saya agar tetap terjaga keseimbangannya, saya terus berlatih hingga nanti akhirnya dokter menyatakan saya bisa untuk bermain sepak bola kembali. Semangat itupun saya dapat dari dorongan orang tua, kakak saya, dan teman teman saya yang selalu support agar cepat pulih.
Tak terasa setelah beberapa bulan tangan harus dibungkus dengan gyp, dokter menyatakan sudah bisa untuk dibuka, dan hanya menggunakan perban. Akhirnya tangan ini merasakan kelegaan yang tidak tergantikan. Setelah dibuka , saya berlatih kembali agar tangan mampu bekerja normal kembali, hanya butuh waktu beberapa minggu saja, tangan kiri saya sudah bekerja secara normal lagi. Dari kejadian itu saya menyimpilkan bahwa seberat apapun cobaan atau ujian yang kita dapat, tidak boleh melunturkan kita untuk menjalani hidup ini, malah justru itu menjadi pecut atau pengacu semangat kita agar bisa lebih baik dari sebelumnya.
berikut adalah video yang menerangkan tentang bagaimana kita bangkit dari keterpurukan
Namun pernah suatu ketika, saya berada dimana semua atlet tidak mau mengalaminya, yaitu cidera. Mendengarnya saja sudah membuat merinding ketakutan, apalagi mengalaminya, namun pada saat itu sebuah kecelakaan menimpa saya di lapangan, dimana tangan kiri saya mengalami retak karena salah bertumpu pada rumput. Entah seperti apa kejadiannya sayapun tak mampu membayangkannya, seketika saja tangan kiriku sudah mati rasa. Dan pada saat itu, saya pun merenung, apakah tangan saya baik baik saja? apakah saya mampu bermain sepak bola kembali? Ya, walaupun hanya tangan, namun itu dapat mengurangi kemampuan sepak bola kita. Hilang semangatku ketika mendengar dan melihat hasil ronsagne dari dokter, saya berfikir itu sudah habis bagi saya. Saya mungkin tidak bisa bermain sepak bola lagi.
Namun setelah beberapa hari merenung, saya pun sadar, saya tidak boleh terus berdiam diri merenungi dan menyalahkan keadaan, saya laki laki, saya tidak boleh menyerah hanya karena cidera seperti ini, saya harus bangkit. Hari esoknya saya pun berniat untuk melatih tangan saya agar tetap terjaga keseimbangannya, saya terus berlatih hingga nanti akhirnya dokter menyatakan saya bisa untuk bermain sepak bola kembali. Semangat itupun saya dapat dari dorongan orang tua, kakak saya, dan teman teman saya yang selalu support agar cepat pulih.
Tak terasa setelah beberapa bulan tangan harus dibungkus dengan gyp, dokter menyatakan sudah bisa untuk dibuka, dan hanya menggunakan perban. Akhirnya tangan ini merasakan kelegaan yang tidak tergantikan. Setelah dibuka , saya berlatih kembali agar tangan mampu bekerja normal kembali, hanya butuh waktu beberapa minggu saja, tangan kiri saya sudah bekerja secara normal lagi. Dari kejadian itu saya menyimpilkan bahwa seberat apapun cobaan atau ujian yang kita dapat, tidak boleh melunturkan kita untuk menjalani hidup ini, malah justru itu menjadi pecut atau pengacu semangat kita agar bisa lebih baik dari sebelumnya.
Minggu, 06 November 2016
Kisah inspiratif untuk instrospeksi diri kita
Setiap hari yang berganti, apakah kita sadar bahwa usia kita dan orang tua kita berkurang, lalu apa yang telah kita lakukan untuk orang tua kita selama ini? Apakah sudah memberikan yang terbaik, atau justru belum memberikan apa apa? Ibu kita yang telah melahirkan kita, telah mati matian untuk dapat mempertahankan hidupnya dan hidup kita, apa yang telah kita beri untuk beliau, setiap malam kita merengek kelaparan saat bayi, beliau terbangun dari tidurnya hanya untuk memberikan ASI untuk kita, tanpa tahu apa yang dirasakan, lalu apa yang telah kita beri untuk beliau? apa yang telah kita kasihkan untuk beliau? Ayah kita, setiap hari dari pagi hingga petang rela membanting tulang hanya agar kita tidak kelaparan, hanya untuk melihat kita senang dan bahagia, kita hanya bisa meminta, tanpa tahu perjuangan beliau.
Ayah kita yang selalu memberikan kita senyuman setelah beliau pulang dari kerjanya, tak pernah menampakkan beliau marah walaupun kita menyakiti hatinya, sadarkah kita akan betapa hancur dan remuk hati ayah kita jika kita melakukan kesalahan hanya untuk mengikuti ego kita. Kita hanya bisa meminta dan meminta tanpa tahu perjuangannya, apa yang telah kita beri kepadanya? apakah sudah mampu mengobati hatinya? apakah telah mampu mengurangi rasa sakitnya?
Cinta dan kasih sayang orang tua kita tidak akan pernah bisa digantikan oleh barang semewah apapun, tidak akan bisa diganti oleh perhiasan semengkilap apapun, tidak akan pernah tergantikan oleh rumah semegah apapun, tidak akan pernah tergantikan oleh mobil semahal apapun, orang tua kita hanya menginginkan kasih sayang yang lebih dari anaknya, hanya membutuhkan ketaatan yang lebih dari anaknya, tanpa harus melukai hati mereka.
Karena surga yang paling tinggi bagi orang tua kita adalah ketaatan kita kepada orang tua kita dibanding ketaatan kita dari atasan, petinggi, dan boss kita, mulai sekarang, marilah kita sayangi orang tua kita sepenuh hati kita, karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan yang paling sempurna dari apapun. Apalah guna kita mempunyai uang yang banyak, rumah yang megah, mobil yang mahal jika kita tidak menyayangi orang tua kita, semua itu tidak akan ada gunanya. Kita akan merasa bahagia jika orang tua kita ikut berbahagia.
Apa jadinya jika kita terlalu menyakiti hati orang tua kita, bagaimana jadinya jika orang tua kita telah murka kepada kita, siapakah yang akan menolong kita dari kemurkaan orang tua kita, teman kita, tidak akan pernah bisa membantu, kekasih kita, suami kita, istri kita, tidak akan pernah mampu menolong dari kemurkaan orang tua kita, jika kita terlalu kelewatan menyakiti hati mereka. Jangan sampai kita melukai, merobek, menyayat hati orang tua kita dengan perlakuan yang tidak baik kepada orang tua kita. Sadarlah kawan, bahwa tidak ada kasih yang lebih melainkan kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Semoga setelah ini, setelah membaca dan menonton video diatas, kita sadar, bahwa harta yang paling bermakna, harta yang paling indah, adalah kebahagian orang tua kita. Memang sampai kita matipun, kita tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang mereka, tapi apa yang telah kita beri untuk orang tua kita harus mampu membahagiakan mereka di dunia ini. Jadilah anak yang selalu berbakti dan taat kepada orang tua kita, karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita akan selalu bersama dengan orang tua kita. Jangan pernah kita mengabaikan nasihat dari mereka, karena nasihat orang tua kita adalah nasihat yang paling tepat untuk kita, walaupun terkadang memang tidak sesuai apa yang kita inginkan.
Selasa, 18 Oktober 2016
Langganan:
Postingan (Atom)