Senin, 02 Januari 2017

wong acak acakan kabeh, ojo ditiru

Karena Hidup tak Semudah membalikan Telapak Tangan

Ini adalah kisah hidupku tentang sepak bola. Sepak bola bagiku adalah bagian dari nyawaku, sebab di dalam olahraga ini banyak mengajarkan saya tentang bagaimana rasa bersyukur, rasa memiliki, respect terhadap semua orang, menerima kekalahan, dan menghargai tentang kemenangan yang diraih. Sepak bola juga mengajarkan bagaimana kesetiaan, kekompakan, dan kekeluargaan.

Namun pernah suatu ketika, saya berada dimana semua atlet tidak mau mengalaminya, yaitu cidera. Mendengarnya saja sudah membuat merinding ketakutan, apalagi mengalaminya, namun pada saat itu sebuah kecelakaan menimpa saya di lapangan, dimana tangan kiri saya mengalami retak karena salah bertumpu pada rumput. Entah seperti apa kejadiannya sayapun tak mampu membayangkannya, seketika saja tangan kiriku sudah mati rasa. Dan pada saat itu, saya pun merenung, apakah tangan saya baik baik saja? apakah saya mampu bermain sepak bola kembali? Ya, walaupun hanya tangan, namun itu dapat mengurangi kemampuan sepak bola kita. Hilang semangatku ketika mendengar dan melihat hasil ronsagne dari dokter, saya berfikir itu sudah habis bagi saya. Saya mungkin tidak bisa bermain sepak bola lagi.


Namun setelah beberapa hari merenung, saya pun sadar, saya tidak boleh terus berdiam diri merenungi dan menyalahkan keadaan, saya laki laki, saya tidak boleh menyerah hanya karena cidera seperti ini, saya harus bangkit. Hari esoknya saya pun berniat untuk melatih tangan saya agar tetap terjaga keseimbangannya, saya terus berlatih hingga nanti akhirnya dokter menyatakan saya bisa untuk bermain sepak bola kembali. Semangat itupun saya dapat dari dorongan orang tua, kakak saya, dan teman teman saya yang selalu support agar cepat pulih.


Tak terasa setelah beberapa bulan tangan harus dibungkus dengan gyp, dokter menyatakan sudah bisa untuk dibuka, dan hanya menggunakan perban. Akhirnya tangan ini merasakan kelegaan yang tidak tergantikan. Setelah dibuka , saya berlatih kembali agar tangan mampu bekerja normal kembali, hanya butuh waktu beberapa minggu saja, tangan kiri saya sudah bekerja secara normal lagi. Dari kejadian itu saya menyimpilkan bahwa seberat apapun cobaan atau ujian yang kita dapat, tidak boleh melunturkan kita untuk menjalani hidup ini, malah justru itu menjadi pecut atau pengacu semangat kita agar bisa lebih baik dari sebelumnya.

berikut adalah video yang menerangkan tentang bagaimana kita bangkit dari keterpurukan
klik aja
Dicoba dulu